Antara Kopi dan Magrib
Table of Contents
Saat senja berlabuh perlahan,
Aroma kopi mulai berpijar di ruang tenang.
Setiap teguk mengajak berlayar,
Dalam gelombang rasa yang tak pernah pudar.
Magrib pun tiba, memanggil jiwa yang resah,
Adzan melantun, memecah hening yang pasrah.
Langit berwarna jingga mulai redup,
Seperti kopi yang tersaji, menanti bibir mengecup.
Ruang antara dua waktu,
Kopi dan magrib, melarut dalam satu.
Hening menenggelamkan pikiran sejenak,
Kopi menghangatkan, magrib menyejukkan langkah.
Dalam detik-detik sakral yang berlalu,
Teguk terakhir kopi menuntun ke arah yang baru.
Malam datang membawa ketenangan,
Seiring doa yang terucap dengan perlahan.
